Mukhlisin99’s Blog

RENUNGAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Oleh:
Drs. Mukhlisin, M.Si
A. Pendahuluan
Setiap orang memiliki filsafat walaupun ia mungkin tidak sadar akan hal tersebut. Kita semua mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang sejarah, arti kehidupan, mati, Tuhan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan sebagainya.
1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi tersebut menunjukkan arti sebagai informal.
2) Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan yang sikap yang sangat kita junjung tinggi. Ini adalah arti yang formal.
3) Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan.
4) Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep.
5) Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsumg yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.
Dari beberapa definisi tadi bahwasanya semua jawaban yang ada difilsafat tadi hanyalah buah pemikiran dari ahli filsafat saja secara rasio.
Banyak orang termenung pada suatu waktu. Kadang-kadang karena ada kejadian yang membingungkan dan kadang-kadang hanya karena ingin tahu, dan berfikir sungguh-sungguh tentang soal-soal yang pokok. Apakah kehidupan itu, dan mengapa aku berada disini? Mengapa ada sesuatu? Apakah kedudukan kehidupan dalam alam yang besar ini ? Apakah alam itu bersahabat atau bermusuhan ? apakah yang terjadi itu telah terjadi secara kebetulan ? atau karena mekanisme, atau karena ada rencana, ataukah ada maksud dan fikiran didalam benda .
Semua soal tadi adalah falsafi, usaha untuk mendapatkan jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran seperti idealisme, realisme, pragmatisme.
Oleh karena itu filsafat dimulai oleh rasa heran, bertanya dan memikir tentang asumsi-asumsi kita yang fundamental (mendasar), maka kita perlukan untuk meneliti bagaimana filsafat itu menjawabnya.
B. Pengertian Filsafat pendidikan Islam
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.
Selain itu terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta, suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi, Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf.
Sementara itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikasanaan sebagai sasaran utamanya.
Filsafat juga memilki pengertian dari segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau pengertian dari segi praktis. Selanjutnya bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim digunakan dalam praktek pendidikan.Dalam hubungan ini dijumpai berbagai rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si – terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan, yaitu 1) Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar. 2) Ada pendidik, pembimbing atau penolong. 3) Ada yang di didik atau si terdidik. 4) Adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut, dan. 5) Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan.
Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah. Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran.
Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup ( long life education ). Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.
Dasar pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman Allah :

“ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar ( QS. Asy-Syura : 52 )”
Dan Hadis dari Nabi SAW :
“ Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”
Dari ayat dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan :
1. Bahwa al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah SWT.
2. Menurut Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.
3. Al Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam.
Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini. Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya.
Corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik.
Kalau teori pendidikan hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan, hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati sebelumnya. Sedangkan para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal.
Tidak ada satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar. Sebagai ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan kemajuan.
Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia :
1) Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya.
2) Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya.
3) Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya
Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya
Setelah mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai sumber sekunder. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.
C. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.
D. Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam
Prof. Mohammad Athiyah abrosyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5 tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yang diuraikan dalam “ At Tarbiyah Al Islamiyah Wa Falsafatuha “ yaitu :
1. Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam.
2. Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi keagamaan saja dan tidak hanya dari segi keduniaan saja, tetapi dia menaruh perhatian kepada keduanya sekaligus.
3. Menumbuhkan ruh ilmiah pada pelajaran dan memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu bukan sekedar sebagai ilmu. Dan juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra, kesenian, dalam berbagai jenisnya.
4. Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat mengusai profesi tertentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya dapat ia mencari rezeki dalam hidup dengan mulia di samping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan.
5. Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan Islam tidaklah semuanya bersifat agama atau akhlak, atau sprituil semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada segi-segi kemanfaatan pada tujuan-tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Tidak lah tercapai kesempurnaan manusia tanpa memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan.
E. Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam
Sebagai suatu metode, pengembangan filsafat pendidikan Islam biasanya memerlukan empat hal sebagai berikut :
Pertama, bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengembangan filsafat pendidikan. Dalam hal ini dapat berupa bahan tertulis, yaitu al Qur’an dan al Hadist yang disertai pendapat para ulama serta para filosof dan lainnya ; dan bahan yang akan di ambil dari pengalaman empirik dalam praktek kependidikan.
Kedua, metode pencarian bahan. Untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing prosedurnya telah diatur sedemikian rupa. Namun demikian, khusus dalam menggunakan al Qur’an dan al Hadist dapat digunakan jasa Ensiklopedi al Qur’an semacam Mu’jam al Mufahras li Alfazh al Qur’an al Karim karangan Muhammad Fuad Abd Baqi dan Mu’jam al muhfars li Alfazh al Hadist karangan Weinsink.
Ketiga, metode pembahasan. Untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif metode analsis-sintesis, yaitu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis terhadap sasaran pemikiran secara induktif, dedukatif, dan analisa ilmiah.
Keempat, pendekatan. Dalam hubungannya dengan pembahasan tersebut di atas harus pula dijelaskan pendekatan yang akan digunakan untuk membahas tersebut. Pendekatan ini biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-teori keilmuan tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu pula. Dalam hubungan ini pendekatan lebih merupakan pisau yang akan digunakan dalam analisa. Ia semacam paradigma (cara pandang) yang akan digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena.
F. Penutup.
Islam dengan sumber ajarannya al Qur’an dan al Hadist yang diperkaya oleh penafsiran para ulama ternyata telah menunjukkan dengan jelas dan tinggi terhadap berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan. Karenanya tidak heran ntuk kita katakan bahwa secara epistimologis Islam memilki konsep yang khas tentang pendidikan, yakni pendidikan Islam.
Demikian pula pemikiran filsafat Islam yang diwariskan para filosof Muslim sangat kaya dengan bahan-bahan yang dijadikan rujukan guna membangun filsafat pendidikan Islam. Konsep ini segera akan memberikan warna tersendiri terhadap dunia pendidikan jika diterapkan secara konsisten.
Namun demikian adanya pandangan tersebut bukan berarti Islam bersikap ekslusif. Rumusan, ide dan gagasan mengenai kependidikan yang dari luar dapat saja diterima oleh Islam apabila mengandung persamaan dalam hal prinsip, atau paling kurang tidak bertentangan.
Tugas kita selanjutnya adalah melanjutkan penggalian secara intensif terhadap apa yang telah dilakukan oleh para ahli, karena apa yang dirumuskan para ahli tidak lebih sebagai bahan perbangdingan, zaman sekarang berbeda dengan zaman mereka dahulu. Karena itu upaya penggalian masalah kependidikan ini tidak boleh terhenti, jika kita sepakat bahwa pendidikan Islam ingin eksis ditengah-tengah percaturan global.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Hanafi, M.A., Pengantar Filsafat Islam, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990.

Prasetya, Drs., Filsafat Pendidikan, Cet. II, Pustaka Setia, Bandung, 2000

Titus, Smith, Nolan., Persoalan-persoalan Filsafat, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1984.

Ali Saifullah H.A., Drs., Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1983.

Zuhairini. Dra, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Cet.II, Bumi Aksara, Jakarta, 1995.

Abuddin Nata, M.A., Filsafat Pendidikan Islam, Cet. I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

Posted on: Mei 15, 2009

SYARIAT ISLAM DALAM KEBIJAKAN PENDIDIKAN
A. Potret Buram Pendidikan Kita

Berbagai tragedi telah mewarnai wajah dunia pendidikan kita, mulai perilaku dari siswa, mahasiswa sampai demontrasi para guru dan pendidik lainnya yang menuntut dinaikkan tunjangan mereka merupakan kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi, betapa dunia pendidikan kita begitu rapuhnya. Ini semua merupakan representasi dari keadaan sistem pendidikan yang sekularistik-materialistik.
Pada tahun 2003, sebanyak 7.670 orang atau 27,3 persen siswa dari 28.366 orang siswa sekolah menengah umum (SMU) dan madrasah aliyah (MA) di Nusa Tenggara Barat dinyatakan tidak lulus ujian akhir nasional (UAN). Sementara di Kota Ngawi, tapatnya dikecamatan Kedunggalar terdapat MAN yang 100% siswanya tidak lulus. Tahun 2006, dari total 28 siswa SMP Terbuka di Wonosari Gunung Kidul, ada delapan siswa yang tak ikut UN absennya mereka karena telah bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau buruh kasar di perantauan. Ada pula yang tidak hadir karena sekadar membantu orangtua mereka mencari kayu atau bertani di dekat rumah. Kondisi serupa terjadi pada sejumlah SMP Terbuka lainnya. Di Kecamatan Gedangsari, misalnya, ada enam siswa tak ikut UN dari total 14 siswa yang terdaftar. Di Kecamatan Panggang, lima dari 12 siswa terdaftar. Di Kecamatan Semanu, tujuh yang tak hadir dari 21 siswa. Dan masih banyak lagi persoalan lain yang menghiasi dunia pendidikan kita.
Dalam perkara tawuran, berdasarkan data Direktorat Bimbingan Masyarakat Polda Metro Jaya dan sekitarnya bahwa tawuran antar pelajar pada tahun 2000 terjadi 197 kasus dan tahun 2001 terjadi 123 kasus. Pelajar yang tewas tahun 2000 tercatat 28 orang dan tahun 2001 sebanyak 23 orang. Pelajar luka berat tahun 2000 ada 22 orang dan 2001 ada 32 orang. Yang memperihatinkan bahwa tawuran tersebut telah turun ke tingkat siswa SLTP. Lebih mencemaskan lagi para pelajar mulai berani melakukan aksi kekerasan, seperti penodongan sampai pembajakan kendaraan umum (bus dan angkot), merampok penumpang, dan mereka tidak segan untuk melukai korbannya. Kini setiap melihat pelajar bergerombol (baik SMU atau SLTP) banyak orang menjadi cemas (Kompas, Minggu 12/5/02).Sementara itu berdasarkan hasil penilaian Program Pembangunan PBB (UNDP) pada tahun 2000 menunjukkan kualitas SDM Indonesia menduduki urutan ke-109 dari 174 negara atau sangat jauh dibandingkan dnegan Singapura yang berada pada urutan ke-24, Malaysia pada urutan ke-61, Thailand urutan ke-76, dan Filipina urutan ke-77 (Satunet.com).

B. Paradigma Pendidikan Islam

Robert L. Gullick Jr. dalam bukunya Muhammad, The Educator menyatakan: “Muhammad merupakan seorang pendidik yang membimbing manusia menuju kemerdekaan dan kebahagiaan yang lebih besar. Tidak dapat dibantah lagi bahwa Muhammad sungguh telah melahirkan ketertiban dan stabilitas yang mendorong perkembangan Islam, suatu revolusi sejati yang memiliki tempo yang tidak tertandingi dan gairah yang menantang… Hanya konsep pendidikan yang paling dangkallah yang berani menolak keabsahan meletakkan Muhammad diantara pendidik-pendidik besar sepanjang masa, karena -dari sudut pargamatis- seorang yang mengangkat perilaku manusia adalah seorang pangeran di antara pendidik”.
Pendidikan dalam pandangan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur serta sistematis untuk mensukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah di muka bumi. Pendidikan harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem hidup Islam. Pendidikan merupakan bagian kebutuhan mendasar manusia dan dianggap sebagai bagian dari proses sosial. Pendidikan dalam Islam dapat (harus) kita fahami sebagai upaya mengubah manusia dengan pengetahuan tentang sikap dan perilaku yang sesuai dengan kerangka nilai/ideologi tertentu (Islam). Dengan demikian, pendidikan dalam Islam merupakan proses mendekatkan manusia pada tingkat kesempurnaannya dan mengembangkan kemampuannya yang dipandu ideologi/aqidah Islam. Inilah paradigma dasar itu. Berkaitan dengan itu pula secara pasti tujuan pendidikan Islam dapat ditentukan, yaitu menciptakan SDM yang berkepribadian Islami, dalam arti cara berfikirnya berdasarkan nilai Islam dan berjiwa sesuai dengan ruh dan nafas Islam. Begitu pula, metode pendidikan dan pengajarannya dirancang untuk mencapai tujuan tersebut. Setiap metodologi yang tidak berorientasi pada tercapainya tujuan tersebut tentu akan dihindarkan. Jadi, pendidikan Islam bukan semata-mata melakukan transfer of knowledge, tetapi memperhatikan apakah ilmu pengetahuan yang diberikan itu dapat mengubah sikap atau tidak.

Islam meletakkan prinsip kurikulum, strategi, dan tujuan pendidikan berdasarkan aqidah Islam. Pada aspek ini diharapkan terbentuk sumber daya manusia terdidik dengan aqliyah Islamiyah (pola berfikir islami) dan nafsiyah islamiyah (pola sikap yang islami).

1. Pendidikan harus diarahkan pada pengembangan keimanan, sehingga melahirkan amal saleh dan ilmu yang bermanfaat. Prinsip ini mengajarkan pula bahwa di dalam Islam yang menjadi pokok perhatian bukanlah kuantitas, tetapi kualitas pendidikan. Perhatikan bagaimana Al Quran mengungkapkan tentang ahsanu amalan atau amalan shalihan (amal yang terbaik atau amal shaleh).
2. Pendidikan ditujukan dalam kaitan untuk membangkitkan dan mengarahkan potensi-potensi baik yang ada pada diri setiap manusia selaras dengan fitrah manusia dan meminimalisir aspek yang buruknya.
3. Keteladanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu proses pendidikan. Dengan demikian sentral keteladanan yang harus diikuti adalah Rasulullah saw. Dengan demikian Rasulullah saw. merupakan figur sentral keteladanan bagi manusia. Al quran mengungkapkan bahwa “Sungguh pada diri Rasul itu terdapat uswah (teladan) yg terbaik bagi orang-orang yang berharap bertemu dengan Allah & hari akhirat”.
Adapun strategi dan arah perkembangan ilmu pengetahuan adalah dalam kerangka berikut ini:
1. Tujuan utama ilmu yang dikuasai manusia adalah dalam rangka untuk mengenal Allah swt. sebagai Al Khaliq, menyaksikan kehadiranNya dalam berbagai fenomena yang diamati, dan mengangungkan Allah swt, serta mensyukuri atas seluruh nikmat yang telah diberikanNya.
2. Ilmu harus dikembangkan dalam rangka menciptakan manusia yang hanya takut kepada Allah swt. semata sehingga setiap dimensi kebenaran dapat ditegakkan terhadap siapapun juga tanpa pandang bulu.
3. Ilmu yang dipelajari berusaha untuk menemukan keteraturan sistem, hubungan kausalitas, dan tujuan alam semesta.
4. Ilmu dikembangkan dalam rangka mengambil manfaat dalam rangka ibadah kepada Allah swt., sebab Allah telah menundukkan matahari, bulan, bintang, dan segala hal yang terdapat di langit atau di bumi untuk kemaslahatan umat manusia.
5. Ilmu dikembangkan dan teknologi yang diciptakan tidak ditujukan dalam rangka menimbulkan kerusakan di muka bumi atau pada diri manusia itu sendiri.

C. Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan merupakan suatu kondisi yang menjadi target penyampaian pengetahuan. Tujuan ini merupakan acuan dan panduan untuk seluruh kegiatan yang terdapat dalam sistem pendidikan. Jadi, tujuan pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang memiliki:
1. Kepribadian Islam
Tujuan ini merupakan konsekuensi keimanan seorang muslim, yaitu teguhnya dalam memegang identitas kemuslimannya dalam pergaulan sehari-hari. Identitas itu tampak pada dua aspek yang fundamental, yaitu pola berfikirnya (aqliyah) dan pola sikapnya (nafsiyyah) yang berpijak pada aqidah Islam. Berkaitan dengan pengembangan keperibadian dalam Islam ini, paling tidak terdapat tiga langkah upaya pembentukannya sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw., yaitu (1) menanamkan aqidah Islam kepada seorang manusia dengan cara yang sesuai dengan kategori aqidah tersebut, yaitu sebagai aqidah aqliyah; aqidah yang keyakinannya muncul dari proses pemikiran yang mendalam. (2) mengajaknya untuk senantiasa konsisten dan istiqamah agar cara berfikir dan mengatur kecenderungan insaninya berada tetap di atas pondasi aqidah yang diyakininya. (3) mengembangkan kepribadian dengan senantiasa mengajak bersungguh-sungguh dalam mengisi pemikirannya dengan tsaqafah Islamiyah dan mengamalkan perbuatan yang selalu berorientasi pada melaksanakan ketaatan kepada Allah swt.
2. Menguasai Tsaqafah Islamiyah dengan handal.
Islam mendorong setiap muslim untuk menjadi manusia yang berilmu dengan cara mewajibkannya untuk menuntut ilmu. Adapun ilmu berdasarkan takaran kewajibannya menurut Al Ghazali dibagi dalam dua kategori, yaitu (1) ilmu yang fardlu ‘ain, yaitu wajib dipelajari setiap muslim, yaitu ilmu-ilmu tsaqafah Islam yang terdiri konsespsi,ide, dan hukum-hukum Islam (fiqh), bahasa Arab, sirah nabawiyah, ulumul quran, tahfidzul quran, ulumul hadits, ushul fiqh, dll. (2) ilmu yang dikategorikan fadlu kifayah, biasanya ilmu-ilmu yang mencakup sains dan teknologi, serta ilmu terapan-ketrampilan, seperti biologi, fisika, kedokteran, pertanian, teknik, dll. Berkaitan dng tsaqafah Islam, terutama bahasa Arab, Rasulullah saw. telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan dan urusan penting lainnya, seperti bahasa diplomatik dan interaksi antarnegara. Dengan demikian, setiap muslim yang bukan Arab diharuskan untuk mempelajarinya. Berkaitan dengan hal ini karena keterkaitan bahasa Arab dengan bahasa Al Quran & As Sunnah, serta wacana keilmuan Islam lainnya.
3. Menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/PITEK).
Menguasai PITEK diperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifatullahi di muka bumi dnegan baik. Islam menetapkan penguasaan sain sebagai fardlu kifayah, yaitu kewajiban yang harus dikerjakan oleh sebagian rakyat apabila ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan umat, seperti kedokteran, kimi, fisika, industri penerbangan, biologi, teknik, dll. Pada hakekatnya ilmu pengetahuan terdiri atas dua hal, yaitu pengetahuan yang mengembangkan akal manusia, sehingga ia dapat menentukan suatu tindakan tertentu dan pengetahuan mengenai perbuatan itu sendiri. Berkaitan dnegan akal, Allah swt. telah memuliakan manusia dnegan akalnya. Akal merupakan faktor penentu yang melebihkan manusia dari makhluk lainnya, sehingga kedudukan akal merupakan sesuatu yang berharga. Allah menurunkan Al Quran dan mengutus RasulNya dengan membawa Islam agar beliau menuntun akal manusia dan membimbingnya ke jalan yang benar. Pada sisi yang lain Islam memicu akal untuk dapat menguasai PITEK, sebab dorongan dan perintah untuk maju merupakan buah dari keimanan. Dalam kitab Fathul Kabir, juz III, misalnya diketahui bahwa Rsulullah saw. pernah mengutus dua orang sahabatnya ke negeri Yaman untuk mempelajari pembuatan senjata muktahir, terutam alat perang yang bernama dabbabah, sejenis tank yang terdiri atas kayu tebal berlapis kulit dan tersusun dari roda-roda. Rasulullah saw. memahami manfaat alat ini bagi peperangan melawan musuh dan menghancurkan benteng lawan.
4. Memiliki skills/ketrampilan yang tepat guna dan berdaya guna.
Perhatian besar Islam pada ilmu teknik dan praktis, serta ketrampilan merupakan salah satu dari tujuan pendidikan islam. Penguasaan ketrampilan yang serba material ini merupakan tuntutan yang harus dilakukan umat Ilam dalam rangka pelaksanaan amanah Allah Swt. Hal ini diindikasikan dengan terdapatnya banyak nash yang mengisyaratkan kebolehan mempelajari ilmu pengetahuan umum dan ketrampilan. Hal ini dihukumi sebagai fardlu kifayah. Penjelasan 3 dan 4 dapat diperhatikan pada pembahasan Ilmu dan kedudukan dalam islam di atas.

D. Negara Sebagai Penyelenggara Pendidikan
Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya Al Ahkaam menjelaskan bahwa seorang kepala negara (khalifah) berkewajiban untuk memenuhi sarana-sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik masyarakat. Jika kita melihat sejarah kekhalifahan Islam maka kita akan melihat perhatian para khalifah (kepala negara) terhadap pendidikan rakyatnya sangat besar demikian pula perhatiannya terhadap nasib para pendidiknya. Banyak hadits Rasul yang menjelaskan perkara ini, di antaranya: “Barangsiapa yang kami beri tugas melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami berikan rezeki (gaji/upah/imbalan), maka apa yang diambil selain dari itu adalah kecurangan” (HR. Abu Daud).
“Barangsiapa yang diserahi tugas pekerjaan dalam keadaan tidak memiliki rumah maka hendaklah ia mendapatkan rumah. Jika ia tidak memiliki isteri maka hendaklah ia menikah. Jika ia tidak memiliki pembantu maka hendaklah ia mendapatkannya. Bila ia tidak memiliki hewan tunggangan hendaklah ia memilikinya. Dan barang siapa yang mendapatkan selain itu maka ia telah melakukan kecurangan” .
Hadits-hadits tersebut memberikan hak kepada pegawai negeri (pejabat pemerintahan) untuk memperoleh gaji dan fasilitas, baik perumahan, isteri, pembantu, ataupun alat transportasi. Semua harus disiapkan oleh negara. Jika kita membayangkan seandainya aturan Islam diterapkan maka tentu saja tenaga pendidik maupun pejabat lain dalam struktur pemerintahan meresa tentram bekerja dan benar-benar melayani kemaslahatan masyarakat tanpa pamrih sebab seluruh kebutuhan hidupnya terjamin dan memuaskan. Sebagai perbandingan, Imam Ad Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari Al Wadliyah bin Atha yang menyatakan bahwa di kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin Khatthab memberikan gaji pada mereka masing-masing sebesar 15 dinar ( 1 dinar = 4,25 gram emas) (sekitar 5 juta rupiah dengan kurs sekarang).
Begitu pula ternyata perhatian para kepala negara kaum muslimin (khalifah) bukan hanya tertuju pada gaji para pendidik dan biaya sekolah, tetapi juga sarana lainnya, seperti perpustakaan, auditorium, observatorium, dll. Madrasah Al Mustanshiriyah di Baghdad didirikan oleh Khalifah Al Mustanir pada abad ke – 6 Hijriah. Sekolah ini memiliki sebuah auditorium dan perpustakaan yang sangat lengkap. Selain itu, madrasah ini juga dilengkapi dengan pemandian, rumah sakit yang dokternya siap di tempat. Madrasah lain yang juga cukup terkenal adalah Madrasah Darul Hikmah di Kairo yang didirikan oleh Khalifah Al Hakim Biamrillah pada tahun 395 H. Madrasah ini adalah institut pendidikan yang dilengkapi dengan perpustakaan dan sarana serta prasarana pendidikan lainnya. Perpustakaannya dibuka untuk umum. Setiap orang boleh mendengarkan kuliah, ceramah ilmiah, simposium, aktifitas kesusastraan, dan telaah agama. Pada perpustakaan ini, seperti juga pada perpustakaan lainnya, dilengkapi dengan ruang-ruang studi dan ceramah serta ruang musik untuk refreshing bagi pembaca.Di antara perpustakaan yang terkenal adalah perpustakaan Mosul didirikan oleh Ja’far bin Muhammad (wafat 940M). Perpustakaan ini sering dikunjungi para ulama, baik untuk membaca atau menyalin. Pengunjung perpustakaan ini mendapatkan segala alat yang diperlukan secara gratis, seperti pena, tinta, kertas, dll. Bahkan kepada para mahasiswa yang secara rutin belajar di perpustakaan itu diberikan pinjaman buku secara teratur. Seorang ulama Yaqut Ar Rumi memuji para pengawas perpustakaan di kota Mer Khurasa karena mereka mengizinkan peminjaman sebanyak 200 buku tanpa jaminan apapun perorang. Ini terjadi masa kekhalifahan Islam abad 10 Masehi. Bahkan para khalifah memberikan penghargaan yang sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya. Bagaimana dengan kita ?
E. Dana , Sarana, dan Prasana Pendidikan
Berdasarkan sirah Nabi saw. dan tarikh Daulah Khilafah Islam (lihat Al Baghdadi, 1996), negara memberikan jaminan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) yang disediakan negara. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan dan merupakan beban negara yang diambil dari kas Baitul maal (kas negara). Sistem pendidikan bebas biaya tersebut berdasarkan ijma’ shahabat yang memberi gaji kepada para pendidik dari baitul maal dengan jumlah tertentu. Contoh praktisnya adalah Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan khalifah Al Muntahsir di kota Baghdad. Pada Sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas). Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya oleh negara. Fasilitas sekolah disediakan, seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit, dan pemandian.
Begitu pula dengan Madrasah An Nuriah di damaskus yang didirikan pada abad keenam hijriyah oleh khalifah Sultan Nuruddin Muhammad zanky. Di sekolah ini terdapat fasilitas lain , seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi. Dan jauh sebelumnya Ad Damsyiqi mengisahkan dari Al Wadliyah bin atha’ bahwa khalifah Umar bin Khattab memberikan gaji kepada tiga orang guru yang mengajar anak-anak di kota Madinah masing-masing sebesar 15 dinar emas setiap bulan (1 dinar=4,25 gram emas)
Media pendidikan adalah segala sarana dan prasarana yang digunakan untuk melaksanakan program dan kegiatan pendidikan. Setiap kegiatan pendidikan harus dilengkapi dengan sarana-sarana fisik yang mendorong terlaksananya program dan kegiatan tersebut sesuai dengan kreativitas, daya cipta, dan kebutuhan. Sarana itu dapat berupa buku-buku pelajaran, sekolah/kampus, asrama siswa, perpustakaan, laboratorium, toko-toko buku, ruang seminar -audiotorium tempat dilakukan aktivitas diskusi, majalah, surat kabar, radio, televisi, kaset, komputer, internet, dan lain sebagainya.
Dengan demikian, majunya sarana-sarana pendidikan dalam kerangka untuk mencerdaskan umat menjadi kewajiban negara untuk menyediakannya. Oleh sebab itu keberadaan sarana-sarana berikut harus disediakan:
1. Perpustakaan umum, laboratorium, dan sarana umum lainnya di luar yang dimiliki sekolah dan PT untuk memudahkan para siswa melakukan kegiatan penelitian dalam berbagai bidang ilmu, baik tafsir, hadits, fiqh, kedokteran, pertanian, fisika, matematika, industri, dll. sehingga banya tercipta para ilmuwan dan mujtahid.
2. Mendorong pendirian toko-toko buku dan perpustakaan pribadi. Negara juga menyediakan asrama, pelayanan kesehatan siswa, perpustakaan dan laboratorium sekolah, beasiswa bulanan yang mencukupi kebutuhan siswa sehari-hari. Keseluruhan itu dimaksudkan agar perhatian para siswa tercurah pada ilmu pengetahuan yang digelutinya sehingga terdorong untuk mengembangkan kreativitas dan daya ciptanya.
3. Negara mendorong para pemilik toko buku untuk memiliki ruangan khusus pengkajian dan diskusi yang dipandu oleh seorang alim/ilmuwan/cendekiawan. Pemilik perpustakaan pribadi didorong memiliki buku-buku terbaru, mengikuti diskusi karya para ulama dan hasil penelitian ilmiah cendekiawan.
4. Sarana pendidikan lain, seperti radio, televisi, surat kabar, amajalah, dan penerbitan dapat dimanfaatkan siapa saja tanpa musti ada izin negara.
5. Negara mengizinkan masyarakatnya untuk menerbitkan buku, surat kabar, majalah, mengudarakan radio dan televisi; walaupun tidak berbahasa Arab, tetapi siaran radio dan televisi negara harus berbahasa Arab.
6. Negara melarang jual-beli dan eksport-import buku, majalah, surat kabar yang memuat bacaan dan gambar yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Termasuk melarang acara televisi, radio, dan bioskop yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
7. Negara berhak menjatuhkan sanksi kepada orang atau sekelompok orang yang mengarang suatu tulisan yang bertentangan dnegan Islam, lalu dimuat di surat kabar dan majalah. Hasil karya penulis dapat dipakai kapan saja dnegan syarat harus bertanggung jawab atas tulisannya dan sesuai dnegan aturan Islam.
8. Seluruh surat kabar dan majalah, pemancar radio& televisi yang sifatnya rutin milik orang asing dilarang beredar dalam wilayah Khilafah Islamiyah. Hanya saja, buku-buku ilmiah yang berasal dari luar negeri dapat beredar setelah diyakini di dalamnya tidak membawa pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam.
Demikian pemaparan sistem pendidikan Islam. Sangat jelas keunggulan sistem pendidikan Islam yang diatur oleh syariat Islam. Dengan bersikap objektif terhadap syariat Islam, seharusnya manusia yang jujur, berpikir, dan yang memiliki nurani yang jernih, akan kembali ke syariat Islam.

HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DENGAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

Oleh:
Drs. Mukhlisin, M. Si

1.Pendahuluan
Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah (Bertens, 1987, Nuchelmans, 1982).
Lebih lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.
Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar-bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.
Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen (1985), bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan.
Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu pengetahuan, sejak F.Bacon (1561-1626) mengembangkan semboyannya “Knowledge Is Power”, kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik individual maupun sosial menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi yang timbul menurut Koento Wibisono (1984), adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.
Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya, dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Oleh karena itu, maka bidang filsafatlah yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Immanuel kant (dalam kunto Wibisono dkk., 1997) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu Francis bacon (dalam The Liang Gie, 1999) menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences).
Lebih lanjut Koento Wibisono dkk. (1997) menyatakan, karena pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan “a higher level of knowledge”, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: Ilmu (Pengetahuan). Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Hal ini didukung oleh Israel Scheffler (dalam The Liang Gie, 1999), yang berpendapat bahwa filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu.
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman (dalam Koento Wibisono dkk.1997), bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas serta dikaitkan dengan permasalahan yang penulis akan jelajahi, maka penulisan ini akan difokuskan pada pembahasan tentang: “Hubungan Filsafat Ilmu dengan Ilmu Pengetahuan Alam”,
2. Pengertian Filsafat

Perkataan Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia, cinta) dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu ternyata luas sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (The Liang Gie, 1999).
Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang telah dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo, 1984), secara harafiah filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Maksud sebenarnya adalah pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan teori pengetahuan.
Kalau menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.), yakni seorang ahli matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang yang oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).
Menurut sejarah kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran (Soeparmo, 1984).
Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawab oleh filsafat secara memuaskan. Jawaban yang diperoleh menurut Koento Wibisono dkk. (1997), dengan melakukan refleksi yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri. Dengan demikian, tidak semua persoalan itu harus persoalan filsafat.
3. Filsafat Ilmu
Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam berbagai buku maupun karangan ilmiah lainnya. Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.
Sehubungan dengan pendapat tersebut serta sebagaimana pula yang telah digambarkan pada bagian pendahuluan dari tulisan ini bahwa filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).
Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
Lebih lanjut Koento Wibisono (1984), mengemukakan bahwa hakekat ilmu menyangkut masalah keyakinan ontologik, yaitu suatu keyakinan yang harus dipilih oleh sang ilmuwan dalam menjawab pertanyaan tentang apakah “ada” (being, sein, het zijn) itu. Inilah awal-mula sehingga seseorang akan memilih pandangan yang idealistis-spiritualistis, materialistis, agnostisistis dan lain sebagainya, yang implikasinya akan sangat menentukan dalam pemilihan epistemologi, yaitu cara-cara, paradigma yang akan diambil dalam upaya menuju sasaran yang hendak dijangkaunya, serta pemilihan aksiologi yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam seseorang mengembangkan ilmu.
Dengan memahami hakekat ilmu itu, menurut Poespoprodjo (dalam Koento Wibisono, 1984), dapatlah dipahami bahwa perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar ilmu, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain sebagainya, yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, dikatakan bahwa dengan filsafat ilmu, kita akan didorong untuk memahami kekuatan serta keterbatasan metodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah dalam konteks dengan realitas in conreto sedemikian rupa sehingga seorang ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan intelektualnya.
4. Hubungan Filsafat Ilmu Dengan Ilmu Pengetahuan Alam
Frank (dalam Soeparmo, 1984), dengan mengambil sebuah rantai sebagai perbandingan, menjelaskan bahwa fungsi filsafat ilmu pengetahuan alam adalah mengembangkan pengertian tentang strategi dan taktik ilmu pengetahuan alam. Rantai tersebut sebelum tahun 1600, menghubungkan filsafat disatu pangkal dan ilmu pengetahuan alam di ujung lain secara berkesinambungan. Sesudah tahun 1600, rantai itu putus. Ilmu pengetahuan alam memisahkan diri dari filsafat. Ilmu pengetahuan alam menempuh jalan praktis dalam menurunkan hukum-hukumnya. Menurut Frank, fungsi filsafat ilmu pengetahuan alam adalah menjembatani putusnya rantai tersebut dan menunjukkan bagaimana seseorang beranjak dari pandangan common sense (pra-pengetahuan) ke prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alam. Filsafat ilmu pengetahuan alam bertanggung jawab untuk membentuk kesatuan pandangan dunia yang di dalamnya ilmu pengetahuan alam, filsafat dan kemanusian mempunyai hubungan erat.
Sastrapratedja (1997), mengemukakan bahwa ilmu-ilmu alam secara fundamental dan struktural diarahkan pada produksi pengetahuan teknis dan yang dapat digunakan. Ilmu pengetahuan alam merupakan bentuk refleksif (relefxion form) dari proses belajar yang ada dalam struktur tindakan instrumentasi, yaitu tindakan yang ditujukan untuk mengendalikan kondisi eksternal manusia. Ilmu pengetahuan alam terkait dengan kepentingan dalam meramal (memprediksi) dan mengendalikan proses alam. Positivisme menyamakan rasionalitas dengan rasionalitas teknis dan ilmu pengetahuan dengan ilmu pengetahuan alam.
Menurut Van Melsen (1985), ciri khas pertama yang menandai ilmu alam ialah bahwa ilmu itu melukiskan kenyataan menurut aspek-aspek yang mengizinkan registrasi inderawi yang langsung. Hal kedua yang penting mengenai registrasi ini adalah bahwa dalam keadaan ilmu alam sekarang ini registrasi itu tidak menyangkut pengamatan terhadap benda-benda dan gejala-gejala alamiah, sebagaimana spontan disajikan kepada kita. Yang diregistrasi dalam eksperimen adalah cara benda-benda bereaksi atas “campur tangan” eksperimental kita. Eksperimentasi yang aktif itu memungkinkan suatu analisis jauh lebih teliti terhadap banyak faktor yang dalam pengamatan konkrit selalu terdapat bersama-sama. Tanpa pengamatan eksperimental kita tidak akan tahu menahu tentang elektron-elektron dan bagian-bagian elementer lainnya.
Ilmu pengetahuan alam mulai berdiri sendiri sejak abad ke 17. Kemudian pada tahun 1853, Auguste Comte mengadakan penggolongan ilmu pengetahuan. Pada dasarnya penggolongan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh Auguste Comte (dalam Koento Wibisono, 1996), sejalan dengan sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkan bahwa gejala-gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih dahulu. Dengan mempelajari gejala-gejala yang paling sederhana dan paling umum secara lebih tenang dan rasional, kita akan memperoleh landasan baru bagi ilmu-ilmu pengetahuan yang saling berkaitan untuk dapat berkembang secara lebih cepat. Dalam penggolongan ilmu pengetahuan tersebut, dimulai dari Matematika, Astronomi, Fisika, Ilmu Kimia, Biologi dan Sosilogi. Ilmu Kimia diurutkan dalam urutan keempat.
Penggolongan tersebut didasarkan pada urutan tata jenjang, asas ketergantungan dan ukuran kesederhanaan. Dalam urutan itu, setiap ilmu yang terdahulu adalah lebih tua sejarahnya, secara logis lebih sederhana dan lebih luas penerapannya daripada setiap ilmu yang dibelakangnya (The Liang Gie, 1999).
Pada pengelompokkan tersebut, meskipun tidak dijelaskan induk dari setiap ilmu tetapi dalam kenyataannya sekarang bahwa fisika, kimia dan biologi adalah bagian dari kelompok ilmu pengetahuan alam.
Ilmu kimia adalah suatu ilmu yang mempelajari perubahan materi serta energi yang menyertai perubahan materi. Menurut ensiklopedi ilmu (dalam The Liang Gie, 1999), ilmu kimia dapat digolongkan ke dalam beberapa sub-sub ilmu yakni: kimia an organik, kimia organik, kimia analitis, kimia fisik serta kimia nuklir.
Selanjutnya Auguste Comte (dalam Koento Wibisono, 1996) memberi efinisi tentang ilmu kimia sebagai “… that it relates to the law of the phenomena of composition and decomposition, which result from the molecular and specific mutual action of different subtances, natural or artificial” ( arti harafiahnya kira-kira adalah ilmu yang berhubungan dengan hukum gejala komposisi dan dekomposisi dari zat-zat yang terjadi secara alami maupun sintetik). Untuk itu pendekatan yang dipergunakan dalam ilmu kimia tidak saja melalui pengamatan (observasi) dan percobaan (eksperimen), melainkan juga dengan perbandingan (komparasi).
Jika melihat dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan alam, pada mulanya orang tetap mempertahankan penggunaan nama/istilah filsafat alam bagi ilmu pengetahuan alam. Hal ini dapat dilihat dari judul karya utama dari pelopor ahli kimia yaitu John Dalton: New Princiles of Chemical Philosophy.
Berdasarkan hal tersebut maka sangatlah beralasan bahwa ilmu pengetahuan alam tidak terlepas dari hubungan dengan ilmu induknya yaitu filsafat. Untuk itu diharapkan uraian ini dapat memberikan dasar bagi para ilmuan IPA dalam merenungkan kembali sejarah perkembangan ilmu alam dan dalam pengembangan ilmu IPA selanjutnya.

5. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka disimpulkan bahwa filsafat ilmu sangatlah tepat dijadikan landasan pengembangan ilmu pengetahuan alam karena kenyataanya, filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan alam.

DAFTAR PUSTAKA

Bahm, Archie, J., 1980., “What Is Science”, Reprinted from my Axiology; The Science Of Values; 44-49, World Books, Albuquerqe, New Mexico, p.1,11.
Bertens, K., 1987., “Panorama Filsafat Modern”, Gramedia Jakarta, p.14, 16, 20-21, 26.
Koento Wibisono S. dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan”, Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79.
Koento Wibisono S., 1984., “Filsafat Ilmu Pengetahuan Dan Aktualitasnya Dalam Upaya Pencapaian Perdamaian Dunia Yang Kita Cita-Citakan”, Fakultas Pasca Sarjana UGM Yogyakarta p.3, 14-16.
____________________., 1996., “Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte”, Cet.Ke-2, Gadjah Mada University Press Yogyakarta, p.8, 24-26, 40.
____________________., 1999., “Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum Mengenai Kelahiran Dan Perkembangannya Sebagai Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu”, Makalah, Ditjen Dikti Depdikbud – Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta, p.1.
Nuchelmans, G., 1982., “Berfikir Secara Kefilsafatan: Bab X, Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam, Dialihbahasakan Oleh Soejono Soemargono”, Fakultas Filsafat – PPPT UGM Yogyakarta p.6-7.
Sastrapratedja, M., 1997., “Beberapa Aspek Perkembangan Ilmu Pengetahuan”, Makalah, Disampaikan Pada Internship Filsafat Ilmu Pengetahuan, UGM Yogyakarta 2-8 Januari 1997, p.2-3.
Soeparmo, A.H., 1984., “Struktur Keilmuwan Dan Teori Ilmu Pengetahuan Alam”, Penerbit Airlangga University Press, Surabaya, p.2, 11.
The Liang Gie., 1999., Pengantar Filsafat Ilmu”, Cet. Ke-4, Penerbit Liberty Yogyakarta, p.29, 31, 37, 61, 68, 85, 93, 159, 161.
Van Melsen, A.G.M., 1985., “Ilmu Pengetahuan Dan Tanggung Jawab, Diterjemahkan Oleh K.Bartens”, Gramedia Jakarta, p.16-17, 25-26.
Van Peursen, C.A., 1985., “Susunan Ilmu Pengetahuan Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu, Diterjemahkan Oleh J.Drost”, Gramedia Jakarta, p.1, 4, 12.

I. Perencanaan Proses Pembelajaran

A. Peran Pengawas dalam Pengembangan Kurikulum

1. Membimbing/mendampingi pembuatan KTSP
2. Membimbing/mendampingi penyusunan silabus dan RPP
3. Mendiskusikan kesulitan yang dihadapi tim kurikulum dalam mengembangkan KTSP ( dokumen 1 )
4. Mendiskusikan kesulitan yang dihadapi guru dalam membuat silabus dan RPP
5. Mereview hasil pengembangan kurikulum ( mereview dokumen 1, KTSP, Silabus, RPP )

B. Langkah Penggunaan Instrumen

1. Tahap Praobservasi
a). Pengawas melakukan wawancara dengan kepala madrasah tentang perlunya mereview kurikulum yang telah dikembangkan dan perangkat kurikulum apa saja yang telah dikembangkan.
b). Bersama-sama kepala madrasah membahas hal-hal yang akan diamati dalam mereview/menilai KTSP dokumen 1, silabus, dan RPP.

2. Tahap Pendampingan/Observasi
a). Memantau kegiatan penyusunan kurikulum di madrasah ( KTSP Dokumen 1, Dokumen II, Silabus, dan RPP )
b). Mendiskusikan kesulitan dan pemecahannya dalam pengembangan kurikulum

3. Tahap Pengamatan Dokumen
a) Pengawas melakukan pengamatan kelengkapan dokumen dan kesesuaian antar kompunen dalam dokumen kurikulum yang di miliki madrasah dengan menggunakan instrument penilaian model A
b) Pengawas melakukan pengamatan terhadap ketepatan kompunen silabus dan RPP, Sampel diamati sendiri oleh pengawas.
c) Pengawas mengoreksi dan menambahkan komentar terhadap KTSP,Silabus, dan RPP yang diamati.

4. Tahap Diskusi Hasil Temuan
a). Pengawas bertemu dengan kepala madrasah dan para guru untuk membahas temuan dalam dokumen kurikulum yang dikembangkan.
b). Secara bersama-sama menentukan tindak lanjut ( dokumen yang belum lengkap didiskusikan strategi/cara untuk melengkapi, yang kurang tepat dicarikan cara untuk memperbaiki, dsb)
c). Pengawas memotivasi guru dan kepala madras an mengenai pentingnya mengembankan kurikulm secara benar.
INSTRUMEN AWAL KUNJUNGAN LAPANGAN UNTUK PENGAWAS

Nama Madrasah : ……………………..
Pengawas : ……………………..

1. PENGEMBANGAN KURIKULUM.
a. Masalah apa saja yang dihadapi dalam perencanaan kurikulum ( penyusunan KTSP dokumen 1, Silabus, RPP, dan SK/KD Mulok ) ?

b. Masalah apa saja yang dihadapi madrasah dalam pelaksanaan kurikulum ?

c. Masalah apa saja yang dihadapi sekolah dalam melaksanakan monitoring pelaksanaan kurikulum ?

d. Apa yang bias dibantu dari masalah-masalah yang dihadapi ?

2. ALTERNATIF PEMECAHAN YANG DIRENCANAKAN

a. Masalah 1

b. Masalah 2

c. Masalah 3

d. Masalah 4

PANDUAN PERTANYAAN UNTUK GURU

Nama Madrasah : …………………………..
Nama Guru : …………………………..
Pengawas : …………………………..

1. PENGEMBANGAN KURIKULUM
a. Masalah apa saja yang dihadapi guru dalam pembuatan silabus dan RPP ?

b. Masalah apa saja yang dihadapi Bapak/Ibu dalam implementasi RPP ( Proses pembelajan ?

c. Maslah apa saja yang dihadapi Bapak/ibu dalam menyiapkan media dan sumber belajar ?

d. Masalah apa saja yang dihadapi Bapak/Ibu dalam pelaksanaan penilian ?

e. Apa yang bias dibantu dari masalah-masalah yang dihadapi ?

2. ALTERNATIF PEMECAHAN YANG DIRENCANAKAN

a. Masalah 1

b. Masalah 2

c. Masalah 3

d. Masalah 4

INTRUMEN MONITORING DAN EVALUASI PENGAWASAN
UNTUK PENGAWAS

NO KEGIATAN CHECKLIST BENTUK KEGIATAN/BUKTI/CONTOH
YA TIDAK
1. Menyusun Program Tahunan Pengawas

2. Menyusun Program Semester Pengawas

3. Menyusun Rencana Program Pengawas ( RPS )

4. Melakukan supervisi kinerja kepala madrasah

5. Melakukan supervise kinerja guru

6. Melakukan supervise evaluasi kurikulum

7. Melakukan supervise evaluasi pembelajaran

8. Melakukan Refleksi Program Kepengawasan bersama Pokjawas

9. Melakukan penguatan kapasitas diri

10. Menindaklanjuti hasil pengawasan

11. Menyusun laporan pelaksanaan program supervise

…………………………,………

Kepala,

Lampiran 04 : Format dan contoh program tahunan pengawas

PROGRAM TAHUNAN PENGAWAS

Nama Madrasah : Satuan Pendidikan : Madrasah Ibtidaiyah
Tahun Pelajaran :

SEMESTER PROGRAM ALOKASI WAKTU Kunjungan
I Membuat rencana pelaksanaan supervisi kurikulum 180 menit –
Mendampingi kepala madrasah, guru, dan komite madrasah dalam menyusun KTSP (Dokumen 1 KKM, Mulok, Struktur Kurikulum, kalender akademik, pengembangan diri, dsb.) 90 menit

1 kali kunjungan

Mendampingi guru dalam menyusun silabus dan RPP (Dok 2) 90 menit
Mengecek kelengkapan dokumen KTSP 30 menit 1 kali kunjungan

Memfasilitasi kepala madrasah dalam membuat rencana supervisi dan monitoring pelaksanaan kurikulum 60 menit
Melakukan kunjungan kelas dan observasi kegiatan siswa sebanyak 2 kali kunjungan 180 menit 1 kali kunjungan
Menyusun instrumen evaluasi kinerja kepala madrasah dan guru dalam melaksanakan pengembangan kurikulum 120 menit –
Jumlah 300 menit kerja di kantor 480 menit di lapangan 3 kali kunju
ngan
II Melakukan kunjungan kelas dan observasi kegiatan siswa 180 menit 1 kali kunjungan
Memotivasi dan membimbing guru dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian tindakan kelas 90
Menit
1 kali kunjungan
Memantau pelaksanaan kurikulum dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala madrasah dalam mempersiapkan akreditasi madrasah 30 menit
Mendampingi kepala madrasah dalam menyusun kriteria keberhasilan pelaksanaan kurikulum 30 menit
Melakukan evaluasi terhadap kinerja kepala madrasah dan guru dalam melaksanakan tugas kurikulum 30 menit
Memonitor perkembangan hasil belajar siswa 30 menit 1 kali kunjungan
Memetakan hasil belajar siswa di madrasah binaannya 30 menit
Menyusun laporan pelaksanaan supervisi kurikulum. 30 menit
Jumlah 450 menit
di lapangan 3 kali kunjung
an

Mengetahui
Kepala Kandepag,

………………………………………..
NIP.
……………….., ………………………….

Pengawas,

………………………………………..
NIP.

Lampiran 06 : Instrumen Monitoring dan Evaluasi Kelengkapan Isi KTSP di Tingkat Sekolah (untuk Dokumen I dan dokumen 2)

Petunjuk :
1) Amati dokumen 1 KTSP dengan sejumlah aspeknya yang ada di madrasah
2) Pilihlah deskripsi yang sesuai dengan keadaan dokumen 1 KTSP yang sedang Anda amati
3) Pilihlah skor sesuai dengan keadaan yang Anda amati pada tiap-tiap aspek!
4) Jumlahkan seluruh skor dan bandingkan dengan kriteria berikut
5) Buatlah penilaian dengan kriteria berikut:

25- 30 = ketersediaan dokumen 1 sangat baik
20- 24 = ketersediaan dokumen 1 t baik
15 – 19 = ketersediaan dokumen 1 cukup
10 – 14 = ketersediaan dokumen 1 kurang
< 10 = ketersediaan dokumen 1 sangat kurang

INSTRUMEN PENYUSUNAN DOKUMEN 1
Madrasah :
No. Aspek Deskripsi Skor
1. Pendahuluan • Pendahuluan berisi tujuan pembuatan KTSP, landasan hukum, deskripsi konteks madrasah
• Mencantumkan 2 komponen
• Mencantumkan 1 komponen
• Tidak mencantumkan semua komponen 3

2
1
0
2. Tujuan • Mencantumkan tujuan pendidikan dasar/menengah, visi madrasah yang sesuai, misi madrasah yang dijabarkan dari visi, tujuan madrasah
• Mencantumkan 3 komponen
• Mencantumkan 2 komponen
• Mencantumkan 1 komponen 3

2
1
0
3. Muatan mata pelajaran • Mencantumkan SKL/ tujuan semua mapel
• Mencantumkan SKL/tujuan dari sebagian besar mapel
• Mencantumkan SKL/tujuan dari sebagian kecil mapel
• Tidak mencantumkan SKL/tujuan dari semua mapel

3
2

1

0

4. Struktur kurikulum • Mencantumkan (1) jenis mapel pada sruktur kurikulum sesuai dengan stuktur kurikulum madrasah MI 8 mapel, muatan lokal, dan pengembangan diri dengan pola di kelas I –III tematik dan kelas IV –VI mata pelajaran; MTs 11 mapel dengan muatan lokal, dan pengembangan diri, MA 17 (untuk kelas X) muatan lokal, dan pengembangan diri, (2) alokasi waktu tiap mapel dalam sruktur kurikulum sesuai dengan yang tercantum pada struktur kurikulum (Permenag Nomor 2 2008), (3) jumlah alokasi waktu keseluruhan dalam struktur kurikulum maksimal bisa ditambahkan 4 jam, (4) berisi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan (MI 6 tahun, MTs 3 tahun, MA 3 tahun),
• Mencantumkan2 atau 3 kriteria
• Mencantumkan 1 kriteria
• Tidak memenuhi semua kriteria 3

2
1
0
5. Pengembangan diri • Mencantumkan prosedur pengembangan diri yang berupa kegiatan (1) rutin/ spontan/ keteladanan untuk pembentukan pribadi secara utuh, (2) konseling untuk perkembangan pribadi dan sosial, dan (3) ekskul beragam sesuai dengan berbagai minat siswa
• Mecantumkan pengembangan diri 2 komponen
• Mencantumkan pengembangan diri 1 komponen
• Tidak mencantumkan semua komponen
6. Mulok • (1) Mencantumkan mulok yang sesuai dengan konteks daerah/karakteristik madrasah, (2) mencantumkan prosedur penyajiannya (mana yang wajib/pilihan), (3) mencanumkan jadwal penyajian mulok per semester /per kelas
• Mencantumkan 2 kriteria
• Mencantumkan 1 kriteria
• Tidak mencantumkan semua kriteria 3

2
1
0
7. Beban belajar • Terdapat (1) uraian sistem penyelenggaraan program pendidikan dengan menggunakan (sistem paket atau sistem kredit semester), (2) pengaturan kegiatan tatap muka yaitu kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik (MI 35 menit; MTs 40 menit, MA 45 menit), (3) aturan pelaksanaan tugas terstruktur (MI maksimal 40%, MTs maksimal 50%, MA maksimal 60% dari jam tatap muka.
• Mencantumkan 2 kriteria
• Mencantumkan 1 kriteria
• Tidak mencantumkan semua kriteria

8. KKM dan rancangan program remedial untuk mengatasi siswa yang tidak mencapai KKM • Terdapat (1) KKM yang dirumuskan berdasarkan intake, kompleksitas, dan sumber daya, (2) rancangan kegiatan remedial sebagai tindak lanjut siswa -siswi yang belum mencapai KKM, (3) KKM semua mapel dicantumkan
• Mencantumkan 2 kriteria
• Mencantumkan 1 kriteria
• Tidak mencantumkan semua kriteria
Kecakapan hidup, keunggulan lokal, dan global • Terdapat (1) rancangan pendidikan kecakapan hidup untuk mengembangkan kemampuan personal, sosial, dan vokasional bagi siswa-siswi, (2) rancangan kegiatan untuk mendorong siswa-siswi untuk memahami dan terampil melakukan keunggulan daerahnya,(3) terdapat rancangan untuk membekali siswa-siswi hidup di dunia global
• Mencantumkan 2 kriteria
• Mencantumkan 1 kriteria
• Tidak mencantumkan semua kriteria
9. Kalender Akademik • Terdapat pengaturan waktu dengan kriteria (1) alokasi /jumlah pekan efektif berada pada rentang 34-38, (2) mengatur pekan efektif, ulangan, libur semester , (3) mengatur awal dan akhir masuk sekolah
• Mencantumkan 2 kriteria
• Mencantumkan 1 kriteria
• Tidak mencantumkan semua kriteria

10. Proses penyusunan kurikulum • Penyusunan KTSP melibatkan kepala madrasah, komite, guru, dan tokoh masyarakat
• Melibatkan 2 atau 3 komponen
• Melibatkan 1 komponen
• Tidak melibatkan semua komponen

Skor maksimal 30

Petunjuk :
6) Amati dokumen silabus semua mapel yang dimiliki madrasah
7) Pilihlah deskripsi yang sesuai dengan keadaan dokumen silabus yang sedang Anda amati
8) Pilihlah skor sesuai dengan keadaan yang Anda amati pada tiap-tiap aspek!
9) Jumlahkan seluruh skor dan bandingkan dengan kriteria berikut
10) Buatlah penilaian dengan kriteria berikut:

9- 10 = ketersediaan dokumen 2 sangat baik
7- 8 = ketersediaan dokumen 2 baik
5– 6 = ketersediaan dokumen 2 cukup
< 5= ketersediaan dokumen 2 kurang

No. Aspek Deskripsi Skor
1. Ketersediaan silabus untuk mapel
• Ketersediaan silabus semua mapel yang menjabarkan semua SK/KD sesuai dengan mapel masing-masing
• Ketersediaan silabus sebagian besar mapel (75%-90%) yang menjabarkan semua SK/KD sesuai dengan mapel masing-masing
• Ketersediaan silabus separuh (50%- 70% mapel yang menjabarkan semua SK/KD sesuai dengan mapel masing-masing
• Tersedia kurang dari separuh (kurang 50%) dari mapel yang ada pada struktur kurikulum
• Tidak tersedia silabus yang menjabarkan SK/KD dalam standar isi
4

3

2

1

0

2. Ketersediaan SK/KD silabus untuk mulok dan program pengembangan diri
• Ketersediaan SK/KD mulok ,silabus semua mulok, program untuk BK
• Ketersediaan 2 kompnen
• Ketersdiaan 1 komponen
• Belum tersedia semua komponen 3

2
1
0

3. Ketersediaan bahan pendukung • Tersedia SK/KD semua mapel, panduan penyusunan silabus, panduan penyusunan RPP
• Tersedia 2 komponen
• Tersedia 1 komponen
• Tidak tersedia semua komponen 3

2
1
0

Skor maksimal 10

INSTRUMEN C

Kualitas Komponen Silabus

Lampiran 07 : Instrumen Monitoring dan Evaluasi Pengembangan Silabus
Petunjuk :
1) Berilah tanda centang dikolom ya atau tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya
2) Tulislah pada kolom catatan tentang komentar jawaban anda bila ya keterangannya ditulis dan bila tidak keterangannya juga dituliskan
3) Tulislah deskripsi hasil monitoring pada baris yang telah disediakan, dengan kriteria sebagai berikut:
A: apabila silabus telah memenuhi 13-16 butir rubrik
B: apabila silabus telah memenuhi 9-12 butir rubrik
C: apabila silabus telah memenuhi 8 butir rubrik
D: apabila silabus telah mmenuhi 1-4 butir rubrik
E. Tidak mengembangkan silabus

Nama Guru: ……………………………
Mata Pelajaran : ………………………….
No. Aspek Penilaian
Deskriptor Ya Tidak Penje-lasan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1. Kelengkap-an Standar Isi 1. Telah mencakup seluruh standar isi dalam mapel
2. Penataan dan pengurutan standar isi logis
2. Kegiatan Pembelajaran 3. Kegiatan pembelajaran memuat aktivitas belajar yang berpusat pada siswa
4. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran mendukung tercapainya KD
5. Kegiatan pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kecakapan hidup personal (kritis, social, akademik)
3. Ketepatan Materi Pembelajaran
6. Materi pembelajaran benar secara keilmuan
7. Materi pembelajaran mendukung pencapaian KD (Selaras dengan KD)
4.. Indikator 8. Rumusan indikator berisi jabaran perilaku untuk mengukur tercapainya KD
9. Rumusan indikator berupa kata kerja operasional
10. Satu KD dapat dikembangkan lebih dari satu indikator
5. Alokasi Waktu
11. Alokasi waktu sesuai dengan kedalaman, keluasan dan tingkat kesulitan KD
12. Jumlah alokasi waktu sesuai dengan program semester yang telah disusun
6. Penilaian 13. Alat penilaian sesuai dengan tuntutan indikator
14. Penilaian mencakup seluruh indikator
7. Sumber Belajar 15. Sumber belajar sesuai untuk mendukung tercapainya KD
16. Sumber belajar bervariasi (baik di dalam maupun di luar kelas)

Deskripsi hasil monitoring:
…………………………………………………………………………………………………………………

Saran untuk perbaikan
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Mengetahui Kepala Madrasah, Pengawas,
……………………………………….

………………………………………. ……………………………………………
NIP. NIP.

Lampiran 08 : Instrumen Monitoring dan Evaluasi Pengembangan RPP
Petunjuk :
1) Berilah tanda centang dikolom ya atau tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya
2) Tulislah pada kolom catatan tentang komentar jawaban anda bila ya keterangannya ditulis dan bila tidak keterangannya juga dituliskan
3) Tulislah deskripsi hasil monitoring pada baris yang telah disediakan, dengan kriteria sebagai berikut:
A: apabila RPP telah memenuhi 19-25 butir rubrik
B: apabila RPP Pendidikan telah memenuhi 13-18 butir rubrik
C: apabila RPP telah memenuhi 7-12 butir rubrik
D: apabila RPP telah memenuhi 1-6 butir rubrik
E: Tidak ada dokumen RPP

Nama Guru : ………………………….
Mata Pelajaran: …………………………….

Aspek Penilaian Deskriptor Ya Tidak Penjelas-an
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Identitas 1. Mencantumkan matapelajaran, kelas, semester, KD, dan alokasi waktu secara jelas
Tujuan Pembelajaran
2. Rumusan tujuan pembelajaran sesuai dengan KD
3. Rumusan tujuan berisi prilaku operasional dan materi.
Metode Pembelajaran 4.
Metode pembelajaran bervariasi
5. Tiap-tiap metode yang dicantumkan benar-benar tercermin dalam langkah-langkah pembelajaran
Langkah-langkah Pembelajaran 6. Pendahuluan berisi pengaitan kompetensi yang akan dibelajarkan dengan konteks kehidupan siswa/apersepsi/ memotivasi dengan berbagai rangsangan ( dikaitkan dengan nilai-nilai islami )
7. Menjelaskan tujuan pembelajaran
8. Kegiatan inti berisi kegiatan Eksplorasi ( melibatkan siswa mencari informasi, mengamati berbagai obyek yang berkaitan dengan KD )
9. Kegiatan inti berisi kegiatan Elaborasi ( mengajak siswa berfikir lebih rinci tentang hal-hal yg telah diamati untuk memperoleh kesimpulan )
10. Kegiatan inti berisi kegiatan Konfirmasi ( memantapkan / memberikan umpan balik / meluruskan hasil temuan siswa )
11. Inti pembelajaran yang
12. dirancang berfokus (berpusat) pada siswa
13. Inti pembelajaran memberi kesempatan siswa bekerja sama dengan teman atau berinteraksi dengan lingkungan/masyarakat sekitar
14. Penutup pembelajaran berisi penyimpulan/ refleksi (membahas kembali apa yang telah dilakukan ) dan tindak lanjut (tugas dan pengayaan)
15. Rumusan langkah-langkah pembelajaran menggambarkan kegiatan dan materi yang akan dicapai.
Pengembangan materi dan bahan ajar 16. Materi pembelajaran benar secara keilmuan
17. Mengembangkan materi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan siswa
18. Materi pembelajaran mendukung pencapaian KD (Selaras dengan KD)
19. Materi pembelajaran dijabarkan berupa bahan ajar / LKS sehingga mudah digunakan sebagai bahan mengajar
Merencanakan Pengelolaan Kelas 20. Penataan Ruang kelas yang mendukung proses PAIKEM ( Pembelajaran Aktif Inovativ Kreatif Efektif dan Menyenangkan ) / CTL ( Pembelajaran Kontekstual ).
21. Pengorganisasian kelas bervariasi ( Individu, Kelompok, Klasikal ).
Sumber Belajar 22. Sumber belajar sesuai untuk mendukung tercapainya KD
23. Sumber belajar bervariasi
Penilaian 24. Alat penilaian sesuai dan mencakup seluruh indikator
25. Rubrik, pedoman penyekoran, kunci jawaban dicantumkan secara jelas dan tepat

Deskripsi hasil monitoring:
……………………………………………………………………………………………………….

Saran :
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Mengetahui
Kepala Madrasah …………………………….. Pengawas

………………………………… ……………………..
NIP. NIP.

Lampiran 09 : Format instrumen observasi kelas dan wawancara

PANDUAN PERTANYAAN UNTUK GURU
Nama Madrasah:
Nama Guru :
Pengawas :

1. PENGEMBANGAN KURIKULUM

a. Masalah apa saja yang dihadapi guru dalam pembuatan silabus dan RPP?

b. Masalah apa saja yang dihadapi guru dalam implementasi RPP (proses pembelajaran)?

c. Masalah apa saja yang dihadapi sekolah dalam menyiapkan media dan sumber belajar?

d. Masalah apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan assessment dan penilaian

e. Apa yang bisa dibantu dari masalah-masalah yang dihadapi?

2. ALTERNATIF PEMECAHAN YANG DIRENCANAKAN

a. Masalah1

b. Masalah 2

c. Masalah 3

d.Masalah 4

Lampiran 10 : Instrumen Monitoring dan Evaluasi Kinerja Kepala Madrasah Dalam Pengembangan Kurikulum
Petunjuk :
1) Berilah tanda centang dikolom ya atau tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya
2) Tulislah pada kolom catatan tentang komentar jawaban anda bila ya keterangannya ditulis dan bila tidak keterangannya juga dituliskan
3) Tulislah deskripsi hasil monitoring pada baris yang telah disediakan, dengan kriteria sebagai berikut:
A: apabila Kepala Madrasah telah melaksanakan 9-10 butir rubrik
B: apabila Kepala Madrasah telah melaksanakan 6-8 butir rubrik
C: apabila Kepala Madrasah telah melaksanakan 3-5 butir rubrik
D: apabila Kepala Madrasah telah melaksanakan 1-3 butir rubrik
E: Tidak melaksanakan tugas pengembangan kurikulum

Nama Madrasah : …………………………………….
Alamat Madrasah : …………………………………….
No. Kegiatan Checklist Keterangan
Ya Tidak
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Kepala Madrasah memfasilitasi madrasah untuk membentuk dan memberdayakan tim pengembang kurikulum
2. Kepala Madrasah memberdayakan tenaga kependidikan sekolah agar mampu menyediakan dokumen-dokumen kurikulum
3. Kepala Madrasah memfasilitasi guru untuk pengembangkan standar kompetensi setiap mata pelajaran
4. Kepala Madrasah memfasilitasi guru untuk menyusun silabus setiap mata pelajaran
5. Kepala Madrasah memfasilitasi guru untuk memilih buku sumber yang sesuai untuk setiap mata pelajaran
6. Kepala Madrasah mengarahkan tim pengembang kurikulum untuk mengupayakan kesesuaian urikulum dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks), tuntutan dan
kebutuhan masyarakat, dan kebutuhan peserta didik
7. Kepala Madrasah mengidentifikasi kebutuhan bagi pengembangan kurikulum lokal
8. Kepala Madrasah memusatkan perhatian pada pengelolaan proses belajar mengajar sebagai kegiatan utamanya, dan menyiapkan kegiatan-kegiatan lain sebagai penunjang/pendukung proses belajar mengajar.
9. Kepala Madrasah membimbing guru dalam mengembangkan dan memperbaiki proses belajar mengajar
10. Kepala Madrasah mengevaluasi pelaksanaan kurikulum

Deskripsi hasil monitoring:
…………………………………………………………………………………………………………………..

Saran :
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Mengetahui
Kepala Madrasah …………………………….. Pengawas

………………………………… ……………………..
NIP. NIP.

Lampiran 10 Instrumen Evaluasi Implementasi Dokumen 1 dan dokumen 2 pada

Petunjuk :
11) Amati pelaksanaan sejumlah aspek KTSP dokumen 1 yang ada di madrasah
12) Pilihlah deskripsi yang sesuai dengan keadaan pelaksanaan KTSP yang sedang Anda amati
13) Pilihlah skor sesuai dengan keadaan yang Anda amati pada tiap-tiap aspek!
14) Jumlahkan seluruh skor dan bandingkan dengan kriteria berikut
15) Buatlah penilaian dengan kriteria berikut:

Skor 20 – 24 = madrasah mengimplementasikan KTSP dokumen 1 dengan sangat baik
Skor 16 – 19 = madrasah mengimplementasikan KTSP dokumen 1 dengan baik
Skor 12 – 15 = madrasah mengimplementasikan KTSP dokumen 1 dengan cukup
Skor 0 – 11 = madrasah mengimplementasikan KTSP dokumen 1 dengan kategori kurang

A. INSTRUMEN IMPLEMENTASI DOKUMEN 1

No. Aspek Deskripsi Skor
1. Struktur kurikulum • Semua jenis mapel pada sruktur kurikulum (standar minimal) dilaksanakan dan alokasi waktu sesuai
• Semua jenis mapel pada sruktur kurikulum (standar minimal) dilaksanakan tapi ada mapel dengan alokasi waktu sesuai

• Ada jenis mapel pada sruktur kurikulum (standar minimal) yang tidak dilaksanakan /diajarkan tetapi alokasi waktu sesuai

• Beberapa (lebih 25%) jenis mapel pada sruktur kurikulum (standar minimal) tidak dilaksanakan /diajarkan dan alokasi waktu beberapa mapel dilaksanakan tidak sesuai dengan struktur kurikulum
3

2

1

0
2. Pelaksanaan pengembangan diri • Melaksanakan pengembangan diri yang berupa kegiatan (1) rutin/ spontan/ keteladanan untuk pembentukan pribadi secara utuh, (2) konseling untuk perkembangan pribadi dan sosial, dan (3) ekskul beragam sesuai dengan berbagai minat siswa
• Melaksanakan pengembangan diri 2 komponen
• Melaksanakan pengembangan diri 1 komponen
• Tidak melaksanakan komponen 3

2

1

0

3. Mulok • Semua mulok dilaksanakan sesuai dengan konteks daerah/karakteristik madrasah dan alokasi waktunya sesuai dengan yang tercantum pada struktur kurikulum
• Semua mulok dilaksanakan sesuai dengan konteks daerah/karakteristik madrasah tapi pelaksanaannya dengan alokasi waktu yang tidak sesuai dengan struktur kurikulum
• Ada jenis mulok pada struktur kurikulum yang tidak dilaksanakan (atau ada jenis mulok yang dilaksanakan dengan waktu yang kurang sesuai dengan struktur kurikulum)
• Tidak melaksanakan mulok 3

2

1

0

4. Beban belajar sesuai • Beban belajar semua mapel dilaksanakan sesuai (tatap muka MI =35’, MTs 40”, MA= 45’) dan tugas terstruktur sesuai (MI= 40% , MTs= 50%, MA = 60% dari tatap muka)dari waktu tatap muka
• Sebagian besar mapel (75%atau lebih) memberikan beban belajar tatap muka dan penugasan terstruktur yang sesuai
• Sebagian kecil (kurang dari 50%) mapel memberikan beban belajar tatap muka dan penugasan terstruktur yang sesuai
• Beban belajar semua mapel dilaksanakan melebihi /tidak sesuai dari waktu tatap muka
3

2

1

0

5. Ketersediaan dukungan sumber daya/ fasilitas untuk melaksanakan mapel, mulok, dan pengembangan diri • Terdapat dukungan (1) guru yang sesuai dengan mapel yang diampunya/ ,(2) pembmbing pengembangan diri yang sesuai, (3) ada dukungan dana, (4) fasilitas untuk pelaksanaan pembelajaran dan pengembangan diri
• Terdapat 2 komponen dukungan
• Terdapat 1 komponen dukungan
• Tidak ada dukungan pelaksanaan 3

2
1
0

6. Penilaian dijabarkan menjadi perencanaan penilaian per mapel dan dilaksanakan sesuai prinsip pelaksanaan

• Semua mapel telah melakukan penilaian sesuai KKM serta memberi remedial bagi siswa yang tidak mencapai KKM
• Semua mapel telah melakukan berbagai penilaian sesuai dengan KKM tetapi belum melaksanakan remedial bagi siswa yang tidak mencapai KKM
• Ada beberapa mapel tidak melakukan penilaian sesuai KKM t
• Semua mapel belum melakukan penilaian sesuai KKM dan belum ada remedial 3

2

1

0

7.
Kalender Akademik • Waktu pelaksanaan (1) jumlah pekan efektif terentang 34-38 pekan, (2) awal dan akhir masuk sekolah sesuai dengan yang direncanakan, (3) pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang direncanakan, (4) melaksanakan penilaian sesuai waktu yang direncanakan
• Melaksanakan 2 komponen
• Melaksanakan 1 komponen
• Tidak melaksanakan semua komponen 3

2
1
0

8. Ketersediaan dukungan sumber daya/ fasilitas untuk melaksanakan mapel, mulok, dan pengembangan diri • Terdapat pelaksana pengembangan diri (ekskul, konseling) yang seimbang ( laki-laki dan perempuan) sehingga siswa-siswa dapat leluasa mengekspresikan pendapat dan pilihannya
• Terdapat dukungan RABPM untuk pelaksanaan mapel, mulok, atau pengembangan diri
• Terdapat dukungan teknis berupa format-format untuk pelaksanaan pembelajaran, layanan konseling, maupun ekskul
3

2

1

0

Skor maksimal 24

Implementasi Dokumen 2 Komponen Silabus dan RPP

Petunjuk :
1) Amati pelaksanaan sejumlah aspek pelaksanaan Standar Isi dalam bentuk pelaksanaan pembelajaran, penilaian, dan dokumen RPP
2) Pilihlah deskripsi yang sesuai dengan keadaan pelaksanaan pembelajaran, penilaian, dan dokumen yang sedang Anda amati
3) Pilihlah skor sesuai dengan keadaan yang Anda amati pada tiap-tiap aspek!
4) Jumlahkan seluruh skor dan bandingkan dengan kriteria berikut
5) Buatlah penilaian dengan kriteria berikut:

Skor 12 – 15 = madrasah mengimplementasikan Standar Isi dengan sangat baik
Skor 9 – 11 = madrasah mengimplementasikan Standar Isi dengan baik
Skor 6 – 8 = madrasah mengimplementasikan Standar Isi dengan cukup
Skor 0 – 5 = madrasah mengimplementasikan Standar Isi dengan kategori kurang

No. Aspek Deskripsi Skor
1. Penjabaran perangkat pembelajaran persiapan implementasi SK/KD

• Semua silabus madrasah dijabarkan menjadi RPP, dilengkapi LKS/bahan ajar dan media yang dibutuhkan
• Memiliki RPP semua mapel tapi belum dilengkapi LKS/ bahan ajar/ media yang relevan.
• Memiliki RPP sebagian mapel yang dilengkapi bahan ajar/LKS
• Memiliki RPP sebagian mapel yang belum dilengkapi bahan ajar/LKS
• Belum menjabarkan silabus menjadi RPP 4

3

2

1

0
2. Persiapan alat evaluasi untuk periapan implementasi • Semua mapel sudah dikembangkan alat penilaiannya sesuai dengan karakeristik KD
• Semua mapel sudah dikembangkan alat penilaiannya tapi ada yang belum sesuai dengan karakteristik KD
• Sebagian mapel sudah dikembangkan alat penilaiannya sesuai dengan karakeristik KD
• Belum dikembangkan alat penilaian untuk semua mapel 3

2

1

0
3. Pelaksanaan RPP tiap mapel
• Semua mapel membelajarkan KD dalam standar isi dengan melaksanakan pembelajaran aktif (eksplorasi, elaborasi, konfirmasi), mendorong kerjasama, menyenangkan, dan menggunakan multi strategi/multi media.
• Sebagian besar mapel (75%atau lebih) membelajarkan KD dalam standari isi dengan melaksanakan pembelajaran aktif (eksplorasi, elaborasi, konfirmasi), mendorong kerjasama, menyenangkan, dan menggunakan multi strategi/multi media.
• Separuh (50%-60%) mapel membelajarkan KD dalam standari isi dengan melaksanakan pembelajaran aktif (eksplorasi, elaborasi, konfirmasi), mendorong kerjasama, menyenangkan, dan menggunakan multi strategi/multi
• Sebagian kecil (kurang dari 50%) mapel membelajarkan KD dalam standari isi dengan pembelajaran aktif (eksplorasi, elaborasi, konfirmasi), mendorong kerjasama, menyenangkan, dan menggunakan multi strategi/multi media.
• Belum membelajarkan sama sekali KD dalam standar isi dengan pembelajaran aktif (eksplorasi, elaborasi, konfirmasi) , mendorong kerjasama, menyenangkan, dan menggunakan multi strategi/multi media. 4

3

2

1

0

4. Pelaksanaan penilaian mapel

• Semua mapel telah melakukan berbagai penilaian sesuai dengan karakteristik kompetensinya serta memberi remedial bagi siswa yang tidak mencapai KKM
• Semua mapel telah melakukan berbagai penilaian sesuai dengan karakteristik kompetensinya tetapi belum melaksanakan remedial bagi siswa yang tidak mencapai KKM
• Sebagian besar mapel (60% atau lebih ) telah melakukan berbagai penilaian sesuai dengan karakteristik kompetensinya serta memberi remedial bagi siswa yang tidak mencapai KKM
• Sebagian kecil (separuh atau kurang dari 50%) mapel telah melakukan berbagai penilaian sesuai dengan karakteristik kompetensinya serta memberi remedial bagi siswa yang tidak mencapai KKM
• Belum ada mapel yang melakukan penilaian sesuai dengan karakteristik kompetensinya 4

3

2

1

0

Skr maksimal 15
Kriteria

…………………………………………………………….

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori

Arsip